Sabtu, 01 Agustus 2015

PART 1 (Selamat Datang)

14 Agustus 2010. Pagi yang cerah setelah malam hari hujan rintik rintik. Dek kapal yang tergenang air memantulkan cahaya pagi yang terang. Kapal mulai mendekati pelabuhan di iringi dengan bel kapal yang menjadikan tanda bahwa kapal akan merapat. Nahkoda kapal sibuk dengan radionya berbicara dengan petugas pelabuhan.

Beberapa menit kemudian tangga kapal diturunkan pertanda kapal sudah merapat di pelabuhan. Para penumpang turun dari kapal. Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bertopi merah tua melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, dari belakang seorang petugas kapal meneriakinya " Hai nak, berhati hatilah, ada sedikit masalah di daerah perbatasan. Jadi, jangan mendekati perbatasan ya!" anak itu berbalik ke arah petugas dan balas melambaikan tangan "ya, pak bapak juga hati hati ya!" Anak itu berlari menuju ke gerbang pelabuhan.

Sebuah mobil pick up berwarna biru muda yang sedikit di kotori lumpur berjalan pelan menuju tempat parkir pelabuhan. Pelabuhan sepi walaupun penumpang kapal sudah turun, Belum sampai ke tempat parkir mobil pick up itu berhenti di dekat gerbang. Pengemudinya keluar matanya tertuju pada kapal yang baru bersandar itu. Seorang bapak berusia 42 tahun berbadan kekar berambut putih keluar dari pintu kanan mobil. Dia berdiri, kemudian bersandar di pintu mobil. Matanya sesekali memandang jam tangannya yang berwarna perak. Lalu pandangannya teralihkan oleh anak bertopi merah yang berjalan pelan. Beberapa menit kemudian bapak itu menegakkan badannya dia berteriak "Ris... Ris... sebelah sini" teriak bapak itu ke arah anak laki laki bertopi merah. Anak itu membalas teriakan itu dengan lambaian tangan dan langsung berlari ke arah bapak itu. Ketika sampai jarak dua meter dari bapak itu, anak itu bertanya sambil terengah engah "Hah... hah... Paman Sugeng sudah berapa lama ada disini?" "Baru saja 5 menit." jawabnya dengan tersenyum santai, wajahnya yang sedikit keriput karena dimakan umur terlihat cerah ketika tersenyum."ayo masuk ke mobil perjalanan darat akan sangat jauh" ajaknya sambil berjalan ke arah pintu mobil sebelah kanan.

          Di mobil, Aris melepas topinya lalu memejamkan mata selama tiga detik kemudian menghela napas panjang. Paman Sugeng memandangi keponakannya itu dengan kagum. "Hebat sekali kamu Ris, sampai di Kalimantan sendirian pasti melelahkan kamu tidak mabuk laut kan?" "Tidak paman, tapi benar benar melelahkan sekali" jawabnya dengan senyum yang lelah. "Kalau begitu istirahatlah dulu, mungkin 3 jam lagi akan sampai di rumah paman" sahutnya. "iya paman, aku tidur dulu".

Rumah paman Sugeng berada di desa yang menjadi perbatasan negara Indonesia-Malaysia. Paman Sugeng adalah transmigran dari pulau Jawa yang mengikuti program pemerintah. Di sana paman Sugeng bekerja sebagai petani dan guru sekolah di daerah perbatasan kedua negara. Karena keuntungan sebagai petani masih belum cukup. Selain itu, jika ingin membuka lahan baru harus meminta ijin
Dinas Perhutani karena menggunakan daerah hutan. Sebenarnya, Paman Sugeng bisa memprosesnya tetapi dia khawatir kalau lahan sudah terbuka, pasti ada investor asing dari malaysia ingin menggunakan lahannya untuk perkebunan kelapa sawit. Karena itulah Paman Sugeng tidak membuka lahan baru.

Dan Aris, adalah seorang pelajar yang baru saja lulus SD. Dia berhasil lulus dengan nilai yang sangat baik. Di ingatannya senyum kedua orang tuanya benar benar tidak terlupakan. Ditambah lagi dia bisa masuk ke SMP yang favorit di kotanya, Kediri, kota kecil di Jawa Timur.

Mungkin kunjungan Aris ke rumah paman Sugeng tidak tepat waktu. Karena Aris baru saja mendengar berita bahwa hubungan antara negaranya dan negara Malaysia sekarang menjadi tegang setelah negara Malaysia mengklaim beberapa pulau milik negara Indonesia. Dan Indonesia menggelar latihan militer skala besar di perbatasan laut negara Malaysia.

Tiga jam telah berlalu, Aris terbangun, matanya masih sedikit terbuka. Pamannya yang sedang menyetir tersenyum kecil melihat keponakannya terbangun. Paman Sugeng mengerti alasan Aris terbangun bukan karena sudah merasa cukup beristirahat, tetapi karena jalan yang mereka lalui belum di lapisi aspal sehingga banyak lubang yang terisi lumpur. Aris mengedipkan matanya yang terbuka sedikit beberapa kali. Lalu mencoba menata tempat duduknya dan menoleh kearah kanan. Penglihatannya menembus kaca jendela yang sedikit kotor karena debu yang menempel. Matanya berbinar memandang hutan yang gelap di samping kanan jalan. "wahh ini benar benar hutan hujan Kalimantan", gumamnya. Puas mengagumi pemandangan hutan disebelah kanannya dia mengalihkan pendangan ke arah kiri pamannya. Terlihat sebuah jurang yang cukup dalam tepat di kiri jalan. Pamannya tersenyum karena melihat keponakannya yang baru lulus SD itu tidak pernah melihat hutan hujan. Aris sangat terpesona dengan pemandangan yang dilihatnya. Sebuah jurang yang kurang lebih sedalam 30 meter yang dipenuhi pepohonan.

Tiba-tiba muncul suara pesawat yang memekakkan telinga Aris. Dengan cepat, Paman Sugeng mengerem mobilnya. Aris menutup telinganya dan terpental ke depan. Beruntung sabuk pengaman menyelamatkannya sehingga dia tidak membentur kaca depan mobil. Suara itu hilang.

Paman Sugeng sedikit menundukkan kepala karena kaget. Namun pandangannya tetap tertuju kearah depan. “Kalau paman menyuruhmu lari, larilah sekencang kencangnya dan jangan menoleh kebelakang.” Ujarnya. Aris mengangguk.

Paman Sugeng menoleh kebelakang. Memeriksa belakang mobilnya. Jalan di belakang sepi. Aris melihat ke arah hutan. Sepi.
Suasana menjadi hening. Tidak ada suara burung. Paman Sugeng tetap diam. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri lalu kebelakang lalu ke arah depan lalu ke kanan begitu seterusnya hingga 5 menit. Keringat sedikit membasahi dahi Paman Sugeng. Aris tetap menundukkan kepala. Sebetar kemudian Aris mendongakkan kepalanya dia melihat sebuah pesawat. Pesawat militer. Nampak seperti F-15. Walaupun jaraknya ratusan meter jauhnya di atas mereka, Aris cukup yakin bahwa itu F-15. Pertanyaannya, pesawat itu dari militer Indonesia atau negara lain?
Aris menoleh ke pamannya. Ternyata pamannya juga melihat pesawat itu. Lalu dia berkata “tenang itu dari negara kita”
“bagaimana paman bisa yakin?” tanya Aris penasaran.
“pesawat itu sedang menuju pangkalan militer negara kita”
“bukan serangan?”
“mungkin bukan” jawab paman Sugeng.
“tidak mungkin mengirim sebuah serangan dengan satu pesawat” lanjutnya.

          Paman Sugeng menginjak gas dengan pelan. Perjalanan mereka berlanjut. Di perjalanan ini Aris merasa sedikit takut. Dia memiliki firasat yang sedikit menggangu. Antara firasat enak dan tidak enak hingga sampai di sebuah desa dimana paman Sugeng tinggal.