14 Agustus 2010. Pagi
yang cerah setelah malam hari hujan rintik rintik. Dek kapal yang tergenang air
memantulkan cahaya pagi yang terang. Kapal mulai mendekati pelabuhan di iringi
dengan bel kapal yang menjadikan tanda bahwa kapal akan merapat. Nahkoda kapal
sibuk dengan radionya berbicara dengan petugas pelabuhan.
Beberapa menit kemudian
tangga kapal diturunkan pertanda kapal sudah merapat di pelabuhan. Para
penumpang turun dari kapal. Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bertopi
merah tua melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, dari belakang seorang
petugas kapal meneriakinya " Hai nak, berhati hatilah, ada sedikit masalah
di daerah perbatasan. Jadi, jangan mendekati perbatasan ya!" anak itu
berbalik ke arah petugas dan balas melambaikan tangan "ya, pak bapak juga
hati hati ya!" Anak itu berlari menuju ke gerbang pelabuhan.
Sebuah mobil pick up
berwarna biru muda yang sedikit di kotori lumpur berjalan pelan menuju tempat
parkir pelabuhan. Pelabuhan sepi walaupun penumpang kapal sudah turun, Belum
sampai ke tempat parkir mobil pick up itu berhenti di dekat gerbang.
Pengemudinya keluar matanya tertuju pada kapal yang baru bersandar itu. Seorang
bapak berusia 42 tahun berbadan kekar berambut putih keluar dari pintu kanan
mobil. Dia berdiri, kemudian bersandar di pintu mobil. Matanya sesekali
memandang jam tangannya yang berwarna perak. Lalu pandangannya teralihkan oleh
anak bertopi merah yang berjalan pelan. Beberapa menit kemudian bapak itu
menegakkan badannya dia berteriak "Ris... Ris... sebelah sini" teriak
bapak itu ke arah anak laki laki bertopi merah. Anak itu membalas teriakan itu
dengan lambaian tangan dan langsung berlari ke arah bapak itu. Ketika sampai
jarak dua meter dari bapak itu, anak itu bertanya sambil terengah engah
"Hah... hah... Paman Sugeng sudah berapa lama ada disini?" "Baru
saja 5 menit." jawabnya dengan tersenyum santai, wajahnya yang sedikit
keriput karena dimakan umur terlihat cerah ketika tersenyum."ayo masuk ke
mobil perjalanan darat akan sangat jauh" ajaknya sambil berjalan ke arah
pintu mobil sebelah kanan.
Di mobil, Aris melepas topinya lalu memejamkan mata selama tiga
detik kemudian menghela napas panjang. Paman Sugeng memandangi keponakannya itu
dengan kagum. "Hebat sekali kamu Ris, sampai di Kalimantan sendirian pasti
melelahkan kamu tidak mabuk laut kan?" "Tidak paman, tapi benar benar
melelahkan sekali" jawabnya dengan senyum yang lelah. "Kalau begitu
istirahatlah dulu, mungkin 3 jam lagi akan sampai di rumah paman"
sahutnya. "iya paman, aku tidur dulu".
Rumah paman Sugeng
berada di desa yang menjadi perbatasan negara Indonesia-Malaysia. Paman Sugeng
adalah transmigran dari pulau Jawa yang mengikuti program pemerintah. Di sana
paman Sugeng bekerja sebagai petani dan guru sekolah di daerah perbatasan kedua
negara. Karena keuntungan sebagai petani masih belum cukup. Selain itu, jika
ingin membuka lahan baru harus meminta ijin
Dinas Perhutani karena
menggunakan daerah hutan. Sebenarnya, Paman Sugeng bisa memprosesnya tetapi dia
khawatir kalau lahan sudah terbuka, pasti ada investor asing dari malaysia
ingin menggunakan lahannya untuk perkebunan kelapa sawit. Karena itulah Paman
Sugeng tidak membuka lahan baru.
Dan Aris, adalah seorang
pelajar yang baru saja lulus SD. Dia berhasil lulus dengan nilai yang sangat
baik. Di ingatannya senyum kedua orang tuanya benar benar tidak terlupakan.
Ditambah lagi dia bisa masuk ke SMP yang favorit di kotanya, Kediri, kota kecil
di Jawa Timur.
Mungkin kunjungan Aris
ke rumah paman Sugeng tidak tepat waktu. Karena Aris baru saja mendengar berita
bahwa hubungan antara negaranya dan negara Malaysia sekarang menjadi tegang
setelah negara Malaysia mengklaim beberapa pulau milik negara Indonesia. Dan
Indonesia menggelar latihan militer skala besar di perbatasan laut negara
Malaysia.
Tiga jam telah berlalu,
Aris terbangun, matanya masih sedikit terbuka. Pamannya yang sedang menyetir
tersenyum kecil melihat keponakannya terbangun. Paman Sugeng mengerti alasan
Aris terbangun bukan karena sudah merasa cukup beristirahat, tetapi karena
jalan yang mereka lalui belum di lapisi aspal sehingga banyak lubang yang
terisi lumpur. Aris mengedipkan matanya yang terbuka sedikit beberapa kali.
Lalu mencoba menata tempat duduknya dan menoleh kearah kanan. Penglihatannya
menembus kaca jendela yang sedikit kotor karena debu yang menempel. Matanya
berbinar memandang hutan yang gelap di samping kanan jalan. "wahh ini
benar benar hutan hujan Kalimantan", gumamnya. Puas mengagumi pemandangan
hutan disebelah kanannya dia mengalihkan pendangan ke arah kiri pamannya. Terlihat
sebuah jurang yang cukup dalam tepat di kiri jalan. Pamannya tersenyum karena
melihat keponakannya yang baru lulus SD itu tidak pernah melihat hutan hujan.
Aris sangat terpesona dengan pemandangan yang dilihatnya. Sebuah jurang yang
kurang lebih sedalam 30 meter yang dipenuhi pepohonan.
Tiba-tiba muncul suara
pesawat yang memekakkan telinga Aris. Dengan cepat, Paman Sugeng mengerem
mobilnya. Aris menutup telinganya dan terpental ke depan. Beruntung sabuk
pengaman menyelamatkannya sehingga dia tidak membentur kaca depan mobil. Suara
itu hilang.
Paman Sugeng sedikit
menundukkan kepala karena kaget. Namun pandangannya tetap tertuju kearah depan.
“Kalau paman menyuruhmu lari, larilah sekencang kencangnya dan jangan menoleh
kebelakang.” Ujarnya. Aris mengangguk.
Paman Sugeng menoleh
kebelakang. Memeriksa belakang mobilnya. Jalan di belakang sepi. Aris melihat
ke arah hutan. Sepi.
Suasana menjadi hening.
Tidak ada suara burung. Paman Sugeng tetap diam. Kepalanya menoleh ke kanan dan
ke kiri lalu kebelakang lalu ke arah depan lalu ke kanan begitu seterusnya
hingga 5 menit. Keringat sedikit membasahi dahi Paman Sugeng. Aris tetap
menundukkan kepala. Sebetar kemudian Aris mendongakkan kepalanya dia melihat
sebuah pesawat. Pesawat militer. Nampak seperti F-15. Walaupun jaraknya ratusan
meter jauhnya di atas mereka, Aris cukup yakin bahwa itu F-15. Pertanyaannya, pesawat
itu dari militer Indonesia atau negara lain?
Aris menoleh ke
pamannya. Ternyata pamannya juga melihat pesawat itu. Lalu dia berkata “tenang
itu dari negara kita”
“bagaimana paman bisa
yakin?” tanya Aris penasaran.
“pesawat itu sedang
menuju pangkalan militer negara kita”
“bukan serangan?”
“mungkin bukan” jawab
paman Sugeng.
“tidak mungkin mengirim
sebuah serangan dengan satu pesawat” lanjutnya.
Paman Sugeng menginjak gas dengan pelan. Perjalanan mereka berlanjut. Di
perjalanan ini Aris merasa sedikit takut. Dia memiliki firasat yang sedikit
menggangu. Antara firasat enak dan tidak enak hingga sampai di sebuah desa
dimana paman Sugeng tinggal.